
Di keramaian pasar, di teras-teras masjid, di jalanan sempit, disana aku menemukan jejak-jejak Aulia, sosok bersahaja dan penuh cinta itu begitu mudah aku temukan di daerah ini.
Sebelumnya aku tidak pernah mengerti dan tidak mau tahu siapa gerangan dirinya, kawan-kawanku sering menyebutnya dengan julukan Aulia, nama yang indah sesuai dengan keindahan hati sang pemilik nama.
Gemetar raga ini saat mata tajamnya membalas tatapanku, seketika itu akupun menundukkan wajah dengan perasaan campur baur antara takut dan malu. Konon Aulia memiliki basirah yang tajam, basirah yang mampu menguak rahasia lahir dan batin seseorang.
Pengabdian tanpa pamrih dan kesungguhannya dalam memanage inner beauty menyadarkan kebodohanku yang menyelimuti kerasnya hati ini. betapa hinanya aku.
Aulia telah sampai pada puncak kenikmatan hidup yang sebenarnya, baginya candu ekstase bukanlah barang yang haram, sementara aku masih mengharamkan diri dari meraih kenikmatan rasa itu.
Lima tahun bukanlah waktu yang singkat. Usia belasan ku akhiri dengan penuh misteri. Aulia, sayang sekali aku terlambat mengenalmu. Saat-saat terakhir bersamamu begitu mengesankan. Dalam perjalanan pulang, aku menemui beberapa keajaiban, aku percaya semua itu bukanlah sekedar accidentally, ada dirimu yang selalu mendoakan kebaikan masa depanku.
Aku masih melihatmu, mengenangmu, merindukan bimbingan penuh kasihmu, senyum tulusmu. Hmmm betapa mimpi-mimpiku kerap kali menghadirkan sosokmu.
Aku yakin, capat atau lambat Aulia pasti akan mengajakku kembali bersua dalam damainya kebersamaan demi menuai hakikat cinta dan pertemanan sejati.
